POKE · Bagaimana cara kerjanya Coba aplikasinya →
Dari awal sampai akhir · bahasa sederhana

Bagaimana Poke bekerja

Ikuti satu contoh: Keluarga Pratama punya 2 anak, Aira & Rafa. Hari ini yang menjemput Pak Budi, sopir mereka. Begini jalannya, langkah demi langkah.

▶ Coba sendiri aplikasinya
👪 Orang tua🚗 Penjemput 🛵 Satpam (Gerbang)🏫 Petugas (Meja)
0
Sekali saja · sebelum hari-H

Orang tua siapkan daftar penjemput

Di HP, orang tua mendaftarkan siapa saja yang boleh menjemput (ibu, sopir, kakek) dan membuat satu kata sandi keluarga — misalnya “melati”. Penjemput cukup diberi kode jemput lewat WhatsApp; mereka tidak perlu memasang aplikasi apa pun.

Penjemput sah · Keluarga Pratama
Ibu Sari · orang tua Pak Budi · sopir Nenek Ani
Kata sandi keluarga · melati
1
Di gerbang · satpam

Penjemput datang → dimasukkan ke antrian

Pak Budi sampai (naik motor / mobil / jalan kaki — sama saja). Satpam scan kode jemputnya atau ketik nomor keluarga (412). Begitu masuk antrian, Aira & Rafa langsung dipanggil dari kelas.

Sedang mengantre
1Pak Budi · motor
anak dipanggil: Aira, Rafa
2Ibu Dewi · jalan kaki
anak dipanggil: Nadia
2
Di dalam · guru & anak

Anak menunggu di ruang tunggu terawasi

Guru mengantar Aira & Rafa dari kelas ke ruang tunggu tertutup di dekat meja jemput. Mereka tidak dibiarkan berjalan sendiri ke pinggir jalan. Kalau ada anak keluar kelas tapi tak sampai di ruang tunggu, sistem langsung membunyikan alarm ke guru & kantor.

Ruang tunggu · siap dijemput
Aira 3A · sudah sampai Rafa 1B · dalam perjalanan
3
Di meja · petugas serah-terima

Serah-terima berlapis di meja

Sebelum anak diserahkan, petugas di meja memeriksa tiga hal yang saling menutup:

1Kode jemput cocok
sudah dicek di gerbang
2Kata sandi keluarga — penjemput mengetik “melati”
orang yang salah tidak akan tahu
3Anak mengonfirmasi — “Aira, ini siapa?”
anak kenal sopirnya sendiri

Baru setelah itu, petugas menandai tiap anak saat anak itu ikut — jadi mustahil ada anak tertinggal. Kalau ragu di langkah mana pun → tahan, anak tetap di sekolah.

4
Di HP orang tua

Orang tua langsung dapat kabar + foto

Poke mengirim satu pesan WhatsApp: anak dijemput siapa, jam berapa, lengkap dengan foto saat serah-terima. Tidak perlu buka aplikasi, tidak perlu menebak-nebak.

Kalau ada 2 petugas

Dibagi dua, ±3× lebih cepat

Verifikasi bisa dikerjakan sambil menunggu, tapi serah-terima anak tidak bisa terburu-buru. Jadi kalau ada dua orang, kerjanya dibagi — dan antrean jalan jauh lebih cepat.

🛵
Pos Gerbang (satpam)
Cek siapa datang, masukkan ke antrian, minta kata sandi. Lalu serahkan ke Meja.
Tidak boleh melepas anak
🏫
Pos Meja (guru/petugas)
Terima dari Gerbang, tanya ke anak, lalu serahkan anaknya.
Hanya di sini anak dilepas

Kalau cuma ada satu orang, dia mengerjakan semuanya — tetap jalan. Pembagian dua orang ini bonus kecepatan, bukan keharusan.

Kalau tidak biasa

Apa yang terjadi kalau ada masalah

🚫 Yang jemput tidak dikenal

Satpam cek KTP, catat di buku tamu, lalu telepon orang tua dulu. Anak tidak boleh dilepas sampai orang tua setuju. (Ini juga yang diminta aturan sekolah dari Kemendikdasmen.)

Yang jemput dilarang (sengketa hak asuh)

Konsol otomatis menahan — anak hanya boleh diambil di kantor, bukan di meja jemput. Gerbang bukan tempat mengadili.

😷 Anak tidak masuk / ada ekskul

Pagi harinya orang tua cukup satu ketukan di HP (“Aira sakit”). Sopir tidak akan menunggu anak yang tidak masuk.

Yang selalu dijaga

Prinsip yang tidak pernah dilanggar

Ragu → anak tetap di sekolah

Sistem selalu gagal ke arah aman. Tidak pernah melepas otomatis.

Tetap jalan tanpa internet

Bubaran adalah jam jaringan tersibuk — jadi tidak bergantung padanya.

Tanpa lacak lokasi anak

Tidak ada peta, tidak ada pengenalan wajah anak. Cukup kode & foto untuk dicocokkan.

Nomor, bukan nama

Layar & papan hanya menampilkan nomor — nama anak keluarga lain tidak terlihat.